Jumat, 02 Juli 2010

segmentasi nestle susu dancow

Komitmen Nestle mengembangkan industri susu di Tanah Air memang tidak main-main. Seperti terlihat dari upaya pengembangan Dancow, Nestle menggiatkan seluruh aspek pemasaran secara terpadu, mulai dari iklan, promosi, distribusi, sampling, gimmick berupa buku cerita, mainan anak-anak, hingga layanan customer service yang siap membantu keluhan konsumen. Itu sebabnya, selama lima kali survei kepuasan pelanggan dilakukan, Dancow selalu terdepan. Baru tahun ini, Dancow kalah tipis dari Anlene (PT New Zealand Milk Indonesia).
Meskipun tahun 2003 Dancow kalah, ia termasuk merek the best of the best, karena berhasil secara konsisten mempertahankan kepuasan pelanggan. Keberhasilan ini istimewa, mengingat pergulatan industri susu dalam lima tahun terakhir sangat ketat. Diakui Arijanto Notorahardjo, Innovation and Renovation Driver Dancow All Family PT Nestle Indonesia Tbk., terjadi persaingan sangat ketat akibat perubahan pasar yang sangat signifikan. Kini, pasar susu dibagi tiga kategori: susu cair (langsung diminum), susu bubuk untuk anak-anak dan keluarga, serta susu bubuk untuk dewasa.
Pembagian susu bubuk masih dipecah lagi menjadi susu bubuk pertumbuhan (growing up milk) dan regular milk. Pada anak-anak, segmentasinya semakin terurai berlapis-lapis: untuk usia 1-3 tahun, 3-6 tahun, dan 6 tahun ke atas.
Melihat situasi pasar yang sedemikian itu, Nestle mencoba mengendalikan diri dengan secara terus-menerus melakukan inovasi dan renovasi dengan dukungan divisi penelitian dan pengembangannya. Melalui survei consumer insight diperoleh masukan dan harapan konsumen yang terus berkembang. “Berbekal temuan itu, Nestle berusaha mencari, mengembangkan dan memberikan produk-produk berkualitas dan terbaik yang bisa menjawab kebutuhan konsumen,” Ariyanto menandaskan.
Menurut Ariyanto, inovasi yang dikembangkan pihaknya tidak hanya dari segi produk, melainkan dari sisi komunikasi, harga dan kemasan. “Dari segi harga, misalnya, Nestle berusaha memenuhi kebutuhan berbagai segmen masyarakat dengan harga yang terjangkau,” ujar Ariyanto yang mencoba menciptakan ukuran kemasan kecil, agar terjangkau lapisan masyarakat seluas-luasnya.
Seiring adanya kemasan kecil itu, Nestle memperbesar ketersediaannya di pasar — pasar modern hingga pasar becek. Untuk itu, dijelaskan Ariyanto, Nestle memang harus mengubah strategi distribusi yang intinya dapat terjalin kerja sama saling menguntungkan dengan distributor dan pemilik toko.

Nestle juga menyelenggarakann Nestle Consumer Service Center, yakni pusat layanan konsumen. Selain itu, dibuka pula situs Sahabat Nestle yang menjadi wadah interaksi antara Nestle dengan konsumen dan antarsesama konsumen.

Berbagai upaya edukasi dan komunikasi kepada konsumen tersebut, tidak mengurangi anggaran belanja iklan Dancow yang setiap tahun terus menanjak. Data Nielsen Media Research menyebutkan, belanja iklan Dancow tahun 2002 senilai Rp 9,52 miliar. Tahun ini (hingga Juli) sudah mencapai Rp 10,68 miliar, dengan penempatan media terbesar di televisi. Artinya, setidaknya terjadi kenaikan belanja iklan 30% lebih, jika dihitung sampai akhir 2003.
Himawan Wijanarko, General Manager Strategic Partner The Jakarta Consulting Group menilai, terdapat hal yang unik di kategori susu, karena pasar yang sudah matang dan fragmentasi pasar berlangsung ketat. Sehingga, jika bicara mengenai kategori susu, terbentang puluhan varian susu di depan mata. Mulai dari susu segar seperti Ultra, Bendera, Indomilk, susu olahan (bubuk, kental manis, krimer), lalu susu formula (bayi sampai 6 bulan), susu lanjutan (7-12 bulan), dan susu pertumbuhan. Kemudian, ada pula susu khusus, seperti susu ibu hamil (Prenamil, Prenagen, Sustagen Mama), kaya kalsium (Anlene, Produgen, Calcimec), pembentuk tubuh (L-Men), rendah kalori, dan banyak lagi. Susu formula itu pun masih terbagi lagi, misalnya, rendah lemah, soya, untuk bayi prematur, dan lain-lain.
Jadi, betapa sulitnya menentukan kategori produk susu umum, karena jika melihat kenyataan komunikasi pemasaran mereka (Dancow, Bendera, Indomilk) selalu terkait dengan anak-anak. Artinya, walaupun kategorisasinya sebagai susu umum, kenyataannya dikomunikasikan sebagai susu pertumbuhan.
Himawan menduga, munculnya berbagai kategori susu tersebut akibat pemahaman perilaku konsumen di Indonesia. Misalnya, minum susu bukan budaya kebanyakan orang dewasa Indonesia, sehingga perlu kategori baru dan edukasi baru untuk memperbesar tingkat konsumsi susu.
Demikian pula pada anak-anak, hampir semua produsen susu sengaja memecah segmen pasarnya hingga berkeping-keping. Dancow sengaja dipecah menjadi Dancow 1+ dan 3 +. Lalu, Susu Bendera dengan mengeluarkan Bendera 123 dan 456. Atau, Sari Husada yang juga menerbitkan SGM 2 (follow on), SGM 3 (1-4 th), dan SGM 4 (4 th ke atas). Semua itu terlihat sebagai upaya lebih berorientasi pasar ketimbang hanya memilah berdasarkan bentuk dan rasa: full cream, instan dan cokelat.
Apa pun alasannya, dengan munculnya pesaing-pesaing baru, Dancow masih teratas karena berhasil menancapkan mereknya kuat-kuat di benak masyarakat. Setidaknya di mata para orang tua, pengambil keputusan dalam pembelian, Himawan melihat, Dancow cukup memuaskan. Kepuasan pelanggan lebih pada perannya sebagai decider dan buyer, bukan user-nya (anak-anak).
Dalam konteks seperti ini kekuatan komunikasi pemasaran amat menentukan, ketimbang produk itu sendiri. Apalagi, Dancow berhasil menawarkan atribut yang dapat menaikkan citra mereknya, yakni mengasosiasikan diri dengan pendidikan, kecerdasan atau ilmu pengetahuan. Ditunjang oleh kegiatan marketing PR, di antaranya mengisi program tentang pengetahuan di teve atau membagi hadiah VCD ilmu pengetahuan, membuat Dancow berbeda dari merek susu lain. “Komunikasi yang gencar dan efektif inilah sebenarnya yang menentukan kinerja mereknya,” Himawan menjelaskan.
Selain itu, seperti merek susu lain, Dancow juga menjual kandungannya, seperti: Prebio 1, yang diklaim membantu pencernaan lewat kandungan prebiotik frukto oligo sakarida, atau kandungan DHA, Omega 3/asam linolenat, Omega 6/asam linoeat, taurin dan frukto oligo sakarida, dan sebagainya, sebagai diferensiasi yang membedakan dari para pesaingnya.
Menurut Himawan, kepuasan pelanggan tercipta ketika harapan pelanggan terpenuhi. Ketika ditemui bahwa harapan pelanggan terhadap produk susu relatif sama, pemasar dapat berkreasi untuk menaikkan aspirasi dengan menciptakan atribut baru, yang hanya dapat dipenuhi oleh mereknya, sebagai augmented product. Kepuasan terhadap Dancow juga mungkin terbentuk dari layanan yang menyertai produk, seperti ketersediaan produk dan stabilitas harga. Citra yang terbentuk dari komunikasi pemasaran efektif inilah yang dapat meningkatkan kepuasan pelanggan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar